Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Skandal Emas Digital China: Rp24 Triliun Dana Investor Menguap

Zahar Zha
Rabu, 04 Februari 2026
Last Updated 2026-02-04T14:50:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Gambar Ilustrasi 

HALOSULSEL.COM, BEIJING --
Skandal besar mengguncang pasar keuangan China. Platform perdagangan emas digital milik JWR Group, JieWoRui (JWR), kolaps dan menyeret puluhan ribu investor ritel ke jurang kerugian triliunan rupiah.


Dana nasabah mendadak dibekukan, sementara emas fisik yang dijanjikan ternyata tak tersedia. Laporan South China Morning Post menyebut dana yang tak bisa dicairkan mencapai lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar Rp24 triliun.


Sejumlah laporan lain bahkan memperkirakan total kerugian menembus USD19 miliar, menjadikannya salah satu skandal perdagangan emas terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.


Kejatuhan JWR terjadi saat harga emas global melonjak ke level tertinggi. Fenomena ini memicu investor ritel China berbondong-bondong membeli emas digital karena dinilai praktis, likuid, dan bisa dibeli dengan nominal kecil.


Namun situasi berbalik drastis ketika harga emas terus naik dan investor serentak menarik dana atau meminta pengiriman emas fisik. Tekanan likuiditas membuat JWR tak mampu memenuhi kewajibannya.


“Lonjakan permintaan pencairan saat harga emas naik mendorong perusahaan ke krisis likuiditas,” tulis South China Morning Post, Kamis (29/1/2026).


Akun investor dibekukan, penarikan dihentikan. Lebih mengejutkan, JWR hanya menawarkan kompensasi sekitar 20 persen dari total dana nasabah.


Cadangan Emas Dipertanyakan


Investigasi awal mengungkap masalah serius, sebagian besar emas yang tercatat diduga hanya berupa data digital tanpa dukungan cadangan fisik memadai. Dengan kata lain, emas yang “dibeli” investor belum tentu benar-benar ada.


Discovery Alert menilai runtuhnya JWR membuka celah besar dalam pengawasan keuangan China. Platform seperti JWR beroperasi di wilayah abu-abu regulasi bukan bank, bukan pialang, dan bukan pedagang komoditas berlisensi sehingga tak terikat kewajiban cadangan dan modal ketat.


“Skandal ini memperlihatkan bagaimana platform tanpa izin bisa mengeksploitasi celah regulasi dan memicu krisis besar,” tulis laporan tersebut.


Dampaknya langsung terasa. Kepercayaan terhadap emas digital anjlok, sementara permintaan emas batangan fisik melonjak tajam. Investor kini memilih aset yang benar-benar bisa disimpan secara nyata.


Pemerintah China pun bergerak cepat dengan memperketat pengawasan dan membersihkan platform emas digital berisiko. Kasus JWR menjadi peringatan keras: inovasi keuangan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi bom waktu sistemik. (*)





iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan