Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Miris! Juara Dunia 4 Kali, Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntung

Zahar Zha
Selasa, 31 Maret 2026
Last Updated 2026-04-01T04:13:24Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


HALOSULSEL.COM, BOLA --
Italia kembali menelan pil pahit. Tim juara dunia empat kali itu dipastikan gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Bosnia-Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica.


Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena menjadi yang ketiga secara beruntun, setelah sebelumnya absen di Piala Dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar. Italia kini mencatat rekor kelam sebagai satu-satunya juara dunia yang absen dalam tiga edisi berturut-turut.


Sebaliknya, Bosnia-Herzegovina mencatat sejarah dengan memastikan tiket ke putaran final untuk kedua kalinya. Di Piala Dunia 2026, mereka akan bersaing di Grup B bersama Kanada, Qatar, dan Swiss.


Malam Suram di Zenica


Laga di Zenica menjadi malam yang sulit dilupakan.dalam arti yang pahit bagi sepak bola Italia.

Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, tampak tak kuasa menahan air mata usai pertandingan. Ia mengaku terpukul dengan hasil tersebut dan menegaskan bahwa masa depannya bukanlah hal yang penting saat ini.


“Ini menyakitkan untuk seluruh Italia. Pukulan yang sangat sulit diterima,” ujar Gattuso.


“Saya rela memberikan bertahun-tahun hidup saya, bahkan uang saya, agar kami bisa mencapai tujuan ini.” sambungnya.


Presiden Federasi Sepak Bola Italia, Gabriele Gravina, juga mengakui bahwa sepak bola Italia tengah berada dalam krisis serius. Meski demikian, ia menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya.


Kekecewaan juga dirasakan para pemain. Leonardo Spinazzola bahkan menyebut generasi muda Italia kembali harus menyaksikan Piala Dunia tanpa tim nasional mereka.


“Saya masih tidak percaya kami tersingkir seperti ini. Kami sudah berjuang dengan 10 pemain dan membawa laga ke adu penalti. Ini sangat mengecewakan,” katanya.


Dari Juara Dunia ke Krisis Berkepanjangan


Sejak meraih gelar juara dunia pada 2006, performa Italia terus mengalami penurunan.


Mereka tersingkir di fase grup pada Piala Dunia 2010 dan 2014, lalu gagal lolos pada 2018 dan 2022. Meski sempat mengangkat trofi Euro 2020, keberhasilan itu kini terlihat sebagai pengecualian di tengah tren negatif yang berkepanjangan.


Di Euro 2024, Italia kembali gagal bersinar setelah tersingkir di babak 16 besar.


Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, situasi semakin tidak stabil. Luciano Spalletti dipecat usai kekalahan telak dari Norwegia, sebelum akhirnya Gattuso ditunjuk sebagai pengganti.


Gattuso sempat membawa harapan lewat lima kemenangan beruntun. Namun kekalahan besar dari Norwegia membuat Italia hanya finis sebagai runner-up grup dan harus melalui jalur play-off—yang kembali berakhir tragis.


Akar Masalah yang Lebih Dalam


Keterpurukan Italia bukan sekadar soal hasil di lapangan, tetapi juga mencerminkan masalah struktural yang telah berlangsung lama.


Dulu, Italia dikenal memiliki sistem pembinaan pemain muda yang kuat. Generasi emas lahir dari fondasi yang dibangun sejak era 1990-an. Namun, perubahan besar terjadi setelah putusan Bosman pada 1995, yang membuka arus bebas pemain di Eropa.


Sejak saat itu, klub-klub Serie A semakin dipenuhi pemain asing. Dampaknya, kesempatan bagi pemain muda lokal untuk berkembang di tim utama menjadi semakin terbatas.


Selain itu, masalah finansial juga membelit klub-klub Italia. Tidak adanya klub yang masuk jajaran elite pendapatan dunia, ditambah stadion yang ketinggalan zaman, membuat pemasukan komersial tertinggal dari liga-liga lain.

Kurangnya investasi dan modernisasi turut memperparah kondisi ini.


Luka Mental yang Terus Membekas


Selain persoalan teknis dan struktural, faktor mental juga menjadi sorotan. Kekalahan di play-off dalam beberapa tahun terakhir.dari Swedia, Makedonia Utara, hingga kini Bosnia-Herzegovina meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi tim.


Italia yang dulu dikenal tangguh kini terlihat rapuh di momen-momen krusial.


Jalan Panjang untuk Bangkit


Dengan kegagalan ini, Italia kembali dipaksa melakukan introspeksi besar-besaran.


Perbaikan tidak hanya dibutuhkan di lapangan, tetapi juga dalam sistem pembinaan, manajemen liga, hingga infrastruktur sepak bola secara keseluruhan.


Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin Italia akan semakin tertinggal dari kekuatan sepak bola dunia lainnya.

Kini, pertanyaan besarnya adalah:

berapa lama lagi Italia harus menunggu untuk kembali ke panggung terbesar dunia?


Penulis: Ahmad Haikal

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan