HALOSULSEL.COM, WAJO -- Di tengah riuh peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, ada satu pemandangan yang terasa berbeda. Ribuan buruh berkumpul, menyuarakan harapan, sementara seorang presiden memilih hadir langsung di tengah mereka bukan dari kejauhan, tetapi berdiri di ruang yang sama, merasakan denyut aspirasi yang selama ini diperjuangkan.
Momen itu tak hanya menjadi sorotan nasional, tetapi juga mengundang apresiasi dari daerah. Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Wajo, Herman Arif, menjadi salah satu yang menyampaikan rasa hormat dan kebanggaannya.
Bagi Herman, kehadiran Presiden di tengah buruh bukan sekadar simbolik. Ia melihatnya sebagai bentuk keberanian sekaligus komitmen nyata seorang pemimpin untuk mendengar langsung suara rakyat pekerja.
“Ini bukan hal biasa. Tidak banyak pemimpin dunia yang benar-benar hadir di tengah buruh saat May Day. Ini langkah yang patut diapresiasi,” ujar Herman.
Ia bahkan menyinggung bahwa hanya segelintir pemimpin dunia yang pernah melakukan hal serupa, hadir dan berdiri bersama buruh dalam momentum besar seperti ini.
"Baru 3 Presiden yang berani berada di tengah Buruh di dunia, itu hanya Presiden Venezuela, Bolivia dan Indonesia," ungkap politisi yang akrab disapa Bimbim ini.
Namun terlepas dari itu, Herman Arif menegaskan hal terpenting dari kehadiran Prabowo itu adalah kebijakan nyata yang dibawa.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo memberikan “kado” bagi buruh, mulai dari ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 untuk melindungi pekerja sektor perikanan, hingga program pembangunan kampung nelayan secara masif.
Pemerintah bahkan menargetkan pembangunan 1.386 kampung nelayan pada 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Tak hanya itu, perhatian juga diberikan kepada pekerja sektor informal seperti pengemudi transportasi online, yang disiapkan regulasi perlindungan termasuk akses jaminan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan.
Bagi Herman Arif, kebijakan-kebijakan tersebut bukan sekadar janji, melainkan langkah konkret yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil, termasuk nelayan dan pekerja di daerah seperti Kabupaten Wajo.
Ia pun menyampaikan harapannya agar program strategis nasional, khususnya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, dapat direalisasikan di Kabupaten Wajo pada tahun 2026.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden. Kami berharap program Kampung Nelayan Merah Putih juga bisa hadir di Wajo, sehingga masyarakat pesisir kami merasakan manfaatnya secara langsung,” ungkapnya.
Di ujung pernyataannya, Herman melihat May Day tahun ini bukan sekadar peringatan tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi simbol hadirnya negara di tengah pekerja bahwa suara buruh didengar, dan harapan mereka mulai dijawab dengan langkah nyata.
Di tengah hiruk-pikuk perjuangan buruh, apresiasi dari Wajo itu menjadi pengingat sederhana, bahwa ketika pemimpin hadir, harapan pun terasa lebih dekat. (Zah)

