Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

El Nino 2026 Mengintai, Ancaman Karhutla dan Kabut Asap Kembali Menghantui Indonesia

Zahar Zha
Jumat, 29 Mei 2026
Last Updated 2026-05-30T03:50:55Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Foto ilustrasi kekeringan (network)

HALOSULSEL.COM, JAKARTA
– Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Indonesia seiring prediksi munculnya fenomena El Nino pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di berbagai wilayah.


Data BMKG menunjukkan hingga akhir Maret 2026 sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut diprediksi terus bertambah dalam beberapa bulan ke depan, terutama di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.


Kondisi ini menjadi sinyal peringatan serius bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Pasalnya, pengalaman masa lalu menunjukkan fenomena El Nino sering kali diikuti lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan yang berdampak luas terhadap kesehatan, lingkungan, hingga perekonomian.


Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa El Nino memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya risiko karhutla karena menyebabkan vegetasi, semak belukar, dan kawasan hutan menjadi lebih kering serta mudah terbakar.


Namun demikian, ia menegaskan bahwa cuaca ekstrem bukanlah penyebab utama kebakaran. Faktor manusia masih menjadi pemicu terbesar, terutama praktik pembukaan lahan menggunakan api yang dilakukan tanpa pengawasan dan pengamanan yang memadai.


"Masalah utamanya bukan hanya cuaca kering, tetapi penggunaan api yang sembarangan dalam pengelolaan lahan. Ketika api tidak dikendalikan dengan baik, kebakaran dapat dengan cepat meluas ke area lain," kata Fiqri dalam pernyataan, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (8/5/2026).


Menurut Fiqri, praktik pembukaan lahan dengan metode bakar masih banyak dilakukan karena dianggap lebih murah dan efisien. Sayangnya, banyak pelaku yang mengabaikan pembuatan sekat bakar atau jalur pengaman sehingga api mudah merembet ke kawasan hutan maupun lahan produktif di sekitarnya.


Ancaman terbesar disebut berada di kawasan lahan gambut. Saat terbakar, api tidak hanya menjalar di permukaan tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah, sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan. Kondisi ini sering menyebabkan kebakaran berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


Fiqri mengingatkan Indonesia pernah mengalami salah satu bencana karhutla terburuk pada 2015. Saat itu jutaan hektare lahan terbakar dan kabut asap menyelimuti berbagai wilayah di Sumatera, Kalimantan hingga negara tetangga. Aktivitas sekolah terganggu, penerbangan dibatalkan, ribuan warga terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah.


"Jika tidak ada langkah pencegahan yang serius, bukan tidak mungkin kejadian serupa kembali terulang," katanya.


Selain mengancam kesehatan masyarakat, karhutla juga berdampak besar terhadap perubahan iklim. Kebakaran hutan melepaskan jutaan ton karbon ke atmosfer yang memperparah pemanasan global dan mempercepat perubahan iklim ekstrem di masa mendatang.


BMKG sendiri telah mengembangkan sistem peringatan dini untuk memantau perkembangan cuaca dan potensi kekeringan. Namun para ahli menilai sistem tersebut harus diikuti tindakan nyata di lapangan, mulai dari patroli rutin, pengawasan kawasan rawan kebakaran, pemantauan muka air gambut, hingga edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.


Pemerintah daerah juga diminta memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan selama musim kemarau. Sementara masyarakat diimbau tidak membakar sampah, kebun, maupun lahan pertanian secara sembarangan karena api kecil sekalipun dapat memicu kebakaran besar saat kondisi cuaca sangat kering.


Di tengah ancaman El Nino yang diprediksi menguat pada tahun ini, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah bencana karhutla. Kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan dan menghindari penggunaan api secara sembarangan akan menjadi benteng pertama agar Indonesia tidak kembali diselimuti kabut asap seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan, ekonomi, dan masa depan generasi mendatang. Karena itu, kewaspadaan sejak dini menjadi langkah paling penting sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. (Aby)


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Iklan