HALOSPORT -- Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan kejutan yang mengguncang jagat sepak bola dunia. Dua raksasa Eropa, Spanyol dan Belgia, gagal meraih kemenangan pada laga pembuka fase grup setelah ditahan tim yang di atas kertas jauh berada di bawah mereka.
Spanyol secara mengejutkan hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan debutan Piala Dunia, Tanjung Verde. Sementara Belgia nyaris menelan kekalahan sebelum akhirnya menyelamatkan diri dari kekalahan dan bermain imbang 1-1 menghadapi Mesir.
Hasil tersebut menjadi peringatan keras bahwa tidak ada lagi lawan yang bisa dianggap remeh di panggung sepak bola terbesar dunia.
Tanjung Verde Bikin Spanyol Frustrasi
Bertanding di Atlanta Stadium, Senin (15/6/2026), Spanyol datang dengan status favorit mutlak. Juara Eropa itu diperkuat sederet bintang seperti Rodri, Pedri, Gavi, Ferran Torres hingga si wonderkid Lamine Yamal.
Sejak menit awal, La Furia Roja langsung menguasai permainan. Penguasaan bola mencapai hampir 80 persen dan serangan demi serangan terus mengalir ke pertahanan Tanjung Verde.
Namun yang terjadi justru di luar prediksi. Alih-alih berpesta gol, Spanyol dibuat frustrasi sepanjang pertandingan. Setiap peluang yang mereka ciptakan selalu kandas di tangan penjaga gawang veteran Tanjung Verde, Vozinha, yang tampil bak tembok tak tertembus.
Ferran Torres sempat membuat publik Spanyol berdiri saat tendangannya mengarah ke gawang pada babak pertama. Namun bola hanya membentur mistar. Peluang emas lain dari Oyarzabal, Fabian Ruiz hingga Cucurella juga gagal berbuah gol.
Masuknya wonderkid Lamine Yamal pada babak kedua belum mampu memecah kebuntuan. Hingga peluit panjang dibunyikan, papan skor tetap menunjukkan angka 0-0.
Bagi Tanjung Verde, hasil ini terasa seperti kemenangan. Dalam debut mereka di putaran final Piala Dunia, tim asal Afrika tersebut sukses mencuri poin dari salah satu kandidat juara dunia.
Belgia Dibuat Ketar-ketir oleh Mesir
Kejutan lain terjadi di Grup G ketika Belgia berhadapan dengan Mesir.
Banyak yang memprediksi Belgia akan meraih kemenangan mudah berkat materi pemain yang lebih mentereng. Namun Mesir ternyata tampil tanpa rasa takut.
Dipimpin Mohamed Salah, The Pharaohs justru berhasil membuat pendukung Belgia terdiam saat Emam Ashour mencetak gol pembuka pada menit ke-19. Gol tersebut membuat Belgia berada dalam tekanan besar.
Kevin De Bruyne dan kolega mencoba membalas, tetapi pertahanan Mesir tampil disiplin dan sulit ditembus. Bahkan hingga pertengahan babak kedua, Belgia masih tertinggal dan bayang-bayang kekalahan mulai menghantui mereka.
Pelatih Belgia kemudian memasukkan Romelu Lukaku sebagai kartu truf.
Keputusan itu akhirnya menyelamatkan wajah Belgia. Tekanan yang diberikan Lukaku membuat bek Mesir Mohamed Hany melakukan gol bunuh diri yang mengubah skor menjadi 1-1.
Meski terus menyerang hingga akhir laga, Belgia gagal menemukan gol kemenangan.
Mesir pun berhasil membawa pulang satu poin berharga yang terasa seperti kemenangan tersendiri bagi wakil Afrika tersebut.
Peringatan untuk Para Favorit Juara
Hasil yang diraih Spanyol dan Belgia menjadi bukti bahwa Piala Dunia 2026 dipenuhi persaingan yang semakin ketat.
Nama besar dan status unggulan ternyata tidak lagi menjamin kemenangan. Tim-tim yang selama ini dianggap underdog kini mampu tampil disiplin, berani, dan efektif menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas individu lebih baik.
Tanjung Verde dan Mesir sukses mengirim pesan kepada dunia bahwa mereka tidak datang ke Piala Dunia hanya untuk menjadi pelengkap.
Sebaliknya, Spanyol dan Belgia kini berada dalam tekanan. Jika gagal meraih hasil maksimal pada pertandingan berikutnya, jalan mereka menuju babak gugur bisa menjadi jauh lebih sulit dari yang diperkirakan.
Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, tetapi kejutan-kejutan besar sudah mulai bermunculan. Dan jika hasil-hasil seperti ini terus berlanjut, turnamen kali ini berpotensi menjadi salah satu Piala Dunia paling sulit diprediksi dalam sejarah. (Ahmad Haikal)

